Home » Blogroll » Catatan dari ITP 2007 – Bagian 1

Catatan dari ITP 2007 – Bagian 1

November 2007
M T W T F S S
« Sep   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Blog Stats

  • 61,351 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 11 other followers

Top Rated

ITP07-ringkasan

 

Akhir bulan lalu, salah seorang staf LATEI berkesempatan untuk diundang dalam International Training Program for Seismic Design of Structures 2007 di Taipei, Taiwan. Selama empat hari penuh, menerima berbagai materi yang terkait dengan kegempaan, struktur dan rekayasa bangunan, investigasi geoteknik pasca-gempa, lessons learned from Chi-Chi earthquake 1999, lessons learned from Taipei 101, reftrofit, disaster management dll. Pada posting ini, LATEI mencoba merangkum dan menarik beberapa hal yang menarik dan bisa menjadi highlight yang perlu disiapkan oleh peneliti, birokrat dan praktisi yang bergelut dalam hal kebencanaan terutama gempa. Beberapa simpulan menarik terangkum dalam uraian paragraf berikut ini.

1. Strong Motion Observation and Geotechnical Database and Microtremor Applications in Taiwan. Materi ini disajikan oleh Dr.Chang. Belajar dari pengalaman Taiwan, saat ini, mereka memiliki ratusan alat pencatat strong ground motion telah mereka install merata di seluruh Taiwan, baik yang stasiun free-field dan downhole. Mereka juga menerapkan sistem jaringan untuk strong motion network meliputi CMSMA, SMART2, TSMIP, LSST network dan downhole array. Berdasarkan data yang terekam oleh jaringan-jaringan tersebut, dapat menyediakan informasi yang mencukupi untuk melakukan kajian sumber gempa dengan tepat, path dan efek terhadap tanah dari ground motion yang terjadi. Seluruh data-data tersebut menjadi database ground motion yang sangat bergunan untuk mengenal lebih baik karakteristik tanah dan lokasi di Taiwan,termasuk didalamnya fault yang aktif maupun pasif. Satu teknik Microtremors, telah diperkenalkan untuk menentukan dominan frekuensi dan site response effects untuk lokasi yang tidak atau belum terpasang stasiun perekam strong ground motions. Keunggulan survai microtremor adalah murah, efisien, cepat, kemudahan dalam analysis dan memungkinkan dilakukan pemodelan untuk lokasi-lokasi data seismik yang tidak lengkap. Karena survai microtremors hanya menggunakan sumber seismik dari earth noise yang bisa berasal dari getaran buatan manusia maupun energi alam.

Belajar dari materi ini, ada satu kemungkinan untuk setiap daerah/wilayah di Indonesia yang termasuk dalam risiko bencana tinggi, untuk mengambil inisiatif melakukan survai microtremor. Berdasarkan data tersebut, informasi pemetaan lokasi-lokasi yang memiliki amplifikasi tinggi dapat dilakukan dengan jelas misalnya diberikan kode wilayah merah. Selanjutnya, penetapan building code tertentu pada wilayah tersebut dapat dijalankan. Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk daerah berkode merah tersebut bisa lebih diawasi khususnya disain struktur bangunannya harus memuat syarat minimal konstruksi tahan getaran/seismic resistance.

2. Prof.Chen menyajikan materi Geotechnical Hazards during Chi-Chi Earthquake. Chi-Chi EQ merupakan gempa kuat yang menerpa tengah Taiwan pada September 21 tahun 1999. Gempa ini mengakibatkan kerusakan yang merata pada banyak infrastruktur publik (jalan dan jembatan), kerusakan rumah dan bangunan tinggi dan terdapat bendungan (dam) yang ikut rusak akibat fault aktif yang berada tepat dibawahnya. Kajian utama dalam geoteknik kegempaan yang perlu diambil perhatian adalah fault-displacement termasuk didalamnya potensi kerusakan, likuifaksi dan longsoran. Sementara itu, efek multiplier yang terjadi seperti penurunan (settlements), soil boiling dan perubahan struktur tanah akan mengikuti fault displacement yang terjadi.

Yang menarik untuk diambil pembelajaran adalah pengalaman dalam mengkaji peristiwa alam/gempa. Banyak struktur bawah pemukaan bumi di Indonesia yang kompleks dan setiap terjadi gempa bumi, fault displacement menjadi fenomena alam yang pasti terjadi. Kajian terhadap fault-displacement ini di Indonesia masih kurang, bahkan upaya pengkajian bidang ini kebanyakan masih bersifat parsial oleh badan riset dan universitas. Dan tambah lagi, publikasi peristiwa ini adalah sangat minimal. Dengan demikian, banyak konstruksi bangunan baik publik maupun swasta yang didirikan (pada daerah fault atau berdekatan dengan fault lines) yang kurang mengambil perhatian kepada fenomena geoteknik ini.


2 Comments

  1. daning says:

    mo tanya ….
    ada ga ilmu .. teori… yang memplejari ttg terjadinya longsor dibawah plate (lempeng) …

  2. @ Terima kasih Daning sudah berkunjung ke blog kami.
    Secara teoritik, peristiwa longsor dapat dipelajari dan ditentukan beberapa parameter dan indikator pengukurnya. Banyak teori longsoran beserta analisis numerik telah disusun, bahkan simulasi dalam FEM juga sudah banyak dilakukan. Terkait dengan longsoran di bawah lempeng, khususnya daerah subduksi, proses simulasi sangat mungkin dilakukan dan bisa. Hanya saja, untuk pengukuran parameter dan indikator yang terlibat bagi simulasi longsoran (sliding) di daerah subduksi tidak mudah dan kompleks misalnya stressing, fault response, rupture mechanism, deformations dan change of pore pressures. Biasanya, parameter tersebut cukup diasumsikan berdasarkan pendekatan data geologi subpermukaan. Contoh hasil simulasi adalah paper dari Naoyuki Kato yang bisa diperolehi pada Journal of Earth Planets Space, 56, 553–561, 2004. Atau bisa mengakses Harvard Univ., untuk penelitian dari Prof.James R. Rice.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: